Kelas bukan lagi jadi andalan. Tidak ada kelaspun belajar tetap berlanjut. Tahun ini sekolah Alternatif mengubah sistem untuk yang kesekian kali. Karena dirasa kelas sangat tidak efektif. Terlalu sulit menyatukan siswa-siswa yang memiliki obsesi yang berbeda-beda. Karena itu saat ini kelas hanya wadah mempererat kebersamaan siswa satu angkatan.
Pertemuan kelas hanya ada satu kali dalam satu minggu. Yaitu untuk membahas apa saja yang sudah di dapat dan jika ada kesempatan, anak satu keals membuat proyek bersama. Proyek bersama yang menyatukan berbagai perbedaan.
Di hari-hari lain, siswa bebas belajar apapun sesuai keinginan. Saat MOS, sempat terbentuk berbagai macam forum. Diantaranya, Forum Filsafat, ROHIS, Sastra, English Community, teater, sanggar seni, Komputer, technology, psikolog, gender, kesehatan herbal dan medis.
Hari-hari diisi dengan kegiatan forum. Semua siswa dari berbagai angkatan berpencar mencari forum yang diminati. Tujuan dari pembelajaran melewati forum-forum adalah supaya siswa lebih konsen ke bidang yang disukai. Sehingga tidak ada paksaan, tidak ada kekangan, dan siswa bisa belajar fokus.
Menciptakan suasana nyaman Berusaha mensejahterakan diri dengan tetap melatih kemandirian. Kedisiplinan sendiri tidak dituntut dari sekolah, tapi merupakan tanggung jawab masing-masing person. Sehingga semua siswa bertanggung jawab atas kedisiplinannya sendiri.
Segala macam bentuk peraturan sekolah, siswa ikut berpartisipasi di dalamnya.
Setiap siswa dituntut untuk tidak berpikiran sempit masalah belajar. Tujuan belajar tidak berhenti sampai pada ujian saja. Tapi cara pandang diperluas agar belajar tidak terkekang oleh waktu.
Siswa Alternatif bebas mencoba berbagai hal. Menumbuhkan semangat untuk terus berkarya dan berkreasi. Setiap siswa mencoba mengenali potensi diri. Belajar percaya diri dengan kemampuan dan kemandirian.
Mungkin Alternatif lebih tepat jika disebut Komunitas Belajar. Karena sangat jarang ada unsur formal yang masuk di tempat belajar kita.
Nilai bukan suatu tuntutan mutlak bagi siswa. Bahkan nyaris semua siswa tidak mempercayai nilai sebagai alat ukur. Pandangan belajar untuk memperoleh nilai yang bagus sudah tidak berlaku di komunitas ini.
Yang terpenting bagi siswa adalah bisa belajar dengan baik untuk menjadi manusia yang berdaya.
Nyaris tidak ada kompetisi atau saingan. Karena tidak ada siswa yang dipandang paling pintar atau paling bodoh. Semua siswa dianggap memiliki kesempatan yang sama dengan kelebihan masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar