Kamis, 31 Juli 2008

MY SHCOOL

SEKOLAHKU TEMPAT TERBAIK PENGHILANG RASA SUNTUK
(Fina Af’idatussofa 5/27/2007)
Suasana depan TU memang selalu dipenuhi oleh siswa-siswa yang berlalu-lalang. Yang kadang mau ke ruang atas, ke kelas, ke dapur, ke ruang tamu, atau mau ke luar dari arena sekolah. Di situlah jalur alternatif yang paling menarik sebagai tempat untuk dilewati.
Text Box: Dok Anak QT “Suasana Depan TU” Karena itu, sebuah papang pengumuman tidak terpampang di Mading melainkan di tempat super diminati seperti itu.
Begitu lewat, tak jarang ada yang menengok dulu ke papan pengumuman. Kali aja ada pengumuman menarik. Begitu ditelusuri satu persatu setiap tulisan pengumuman yang tertera di kertas-kertas, pasti kebanyakan adalah pengumuman tentang forum-forum.
Forum beladiri, forum teater, forum IT, forum Akademik, Forum Seni, Forum Ekspresi, forum Otomotif, Forum Majalah, Forum Vocal, forum Agama, forum kedokteran, forum filsafat, forum majalah, forum musik, forum lukis, forum multimedia, forum film. Dan lain-lain dan sebagainya.
Tiap siswa berhak memasuki forum yang disukai. Tak peduli bisa atau tidak, tetap tidak ada seleksi. Yang paling ditonjolkan adalah minat dan ketertarikan.
Siswa memasuki suatu forum tidak berdasarkan kemampuan yang super high. Tapi berdasarkan kebutuhan. Jika memang dirasa bosan, masih bisa ganti forum yang lain. Dengan begitu, siswa tidak jenuh dengan forum-forum yang seabreg itu. Siswa juga tidak wajib untuk saklek mengikuti suatu forum secara paten. Semua dituntut memiliki kesadaran masih-masing dan kesukaan masing-masing untuk belajar apapun yang disukai.
Membuat suatu komunitas belajar sederhana di sekolah sudah menjadi hal yang biasa. Membuat jurusan sendiri juga menjadi hal yang tak asing. Jadi jangan heran jika menemui anak ahli Biologi yang juga sekaligus ahli Bahasa. Itu dikarenakan siswa bebas menetukan forum dan komunitas sebanyak-banyaknya yang disukai. Moto hidup anak Qaryah Thayyibah adalah belajar sepanjang masa. Jadi belajar apapun, kapanpun dan dengan siapapun.
Banyak narasumber. Termasuk tamu-tamu yang berdatangan, yang mempelajari tentang pendidikan Qaryah Thayyibah. Tentu saja biasanya yang berdatangan bukan orang sembarangan. Karena itu, siswa juga merasa berhak mengambil manfaat daripada apa yang dimiliki mereka.
“Mereka dapet something dari kita, kita juga mustinya dapet something dari mereka,”ujar salah seorang siswa SMP QT.
Contohnya saja Mas Alvian. Mahasiswa UNS ini pernah berkunjung selama kurang lebih dua bulan. Dia benar-benar merasakan kehidupan di sekolah Alternatif. Akrab dengan siswa-siswa, memahami karakter siswa, dan yang penting adalah ia juga memahami system dan konsep sekolah kami.
Waktu itu, dia memiliki kepentingan membuat tesis arsitek. Ia mencoba membuat tesis dengan jalur alternatif. Yang dibuat juga bukanlah desain gedung bertingkat seperti lazilmnya mahasiswa arsitek lain. Ia justru mendesain sebuah komunitas desa. Karena itu, ia merasa Sekolah Alternatif adalah sumber inspirasi yang tepat.
Nah.. mumpung ada orang pinter, para siswa juga tidak menyia-nyiakannya. Kebanyakan siswa berusapaya menyerap ilmu-ilmu arsitek milik Mas Alvian. Mulai dari desain, sampai cara menghitung ini dan itu. Hingga akhirnya muncullah ketertarikan beberapa siswa di bidang arsitek. Selama dua bulan, secara tidak sadar Mas Alvian sudah menjadi guru atau kami sering menyebutnya sebagai resource person. Selanjutnya setelah Mas Alvian sudah selesai mengerjakan tugasnya, siswa-siswa mulai mempraktekkan dari apa yang didapatnya dari Mas Alvian. Banyak anak yang suka desain-desain rumah lewat program computer yang sudah dicopynya dari Mas Alvian.
Text Box: Suasana di ruang TU Dan pada gilirannya, anak-anak yang benar-benar tertarik pada arsitek mulai menunjukkan ekspresinya. Mereka mendesain gedung resource centre yang akan dijadikan perpustakaan besar untuk masyarakat sekitar. Setelah itu, mereka mengukur panjang lebar, dan memperkirakan ini dan itu di lokasi dimana gedung itu akan berdiri. Mereka juga memperhitungkan berapa banyak jendela, memperkirakan cahaya yang masuk, dan berusaha membuat ruangan itu tetap mendapat cahaya yang banyak. Dan sekarang, bisa kita lihat hasil karya anak arsitek. Sebuah gedung resource centre yang baru dibangun, dan hampir jadi kini telah berdiri di sebelah sekolah.
Itu baru anak arsitek, belum anak majalah, anak teater, anak kedokteran, anak musik, dan anak-anak lain yang belajar langsung dari realita kehidupan. Bisa dibayangkan, anak Alternatif yang belajar filsafat langsung berpikir dan memadukan semuanya dengan realita. Hasil pemikiran mereka tidak hanya memadukan pemikiran orang yang biasa ditulis di buku, tapi mereka juga berpikir langsung dari kehidupan nyata di sekelilingnya.
Text Box: Shooting Film Anak-anak yang mengambil jurusan film juga jarang belajar teori. Mereka langsung praktek menggunakan peralatan sederhana dan apa adanya. Yang pasti berekspresi bebas. Dan sekarang di QT, akan ditemui seabreg sutradara-sutradara film. Hampir lima film telah digarap siswa-siswa QT. Mulai dari Sutradara, penulis naskah, cameramen, pemain, editing, property dan lain sebagainya semua digarap dan dikerjakan siswa sendiri. Dengan perhitungan dan perkiraan masing-masing. Mereka juga tidak belajar terlalu lama untuk mengahsilkan sebuah film. Belajar langsung praktek menjadi kebiasaan mereka. Cameramen juga langsung pegang camera sambil belajar mengoprasikannya, editing film juga langsung berhadapan langsung dengan program edit film, dan belajar mengedit saat itu juga. Sambil banyak membaca atau mencari tahu tentang dunia perfilman lewat internet, buku, atau apapun dan siapapun.
Untuk anak musik, mereka cenderung belajar otodidak atau belajar bersama dengan teman lain. Bagi mereka, teman juga bisa jadi guru. Karena belajar dengan teman biasanya malah nggak pernah sungkan.
Organ dan gitar-gitar juga tersedia di QT. Fasilitas memang terbatas, tapi justru itu yang membuat siswa merasa ingin optimal dalam menggunkaan fasilitas yang ada. Musik bisa digunakan siapa saja. Tidak ada jam tertentu untuk belajar musik. Tiap siswa bebas menggunakannya. Hingga pada gilirannya, muncullah musisi-musisi di Alternatif. Mengarang lagu, dan mengaransemen musik sudah bukan lagi menjadi hal yang asing. Dan yang pasti mendapat respon bagus dari pihak sekolah dan dari teman-teman lain.
Anak teater juga memiliki kemampuan acting yang serius. Bermula dari berkumpulnya beberapa anak yang membuat suatu forum teater. Hingga kemudian dibuka casting yang akhirnya semua peserta tidak ada yang ditolak alias semuanya diterima meski dengan kemampuan yang berbeda-beda. Semua menyadari bahwa tiap anak memang sedang tahab belajar, karena itu tidak ada satupun yang ditolak untuk mengikuti teater. Dengan satu sarat, anggota harus benar-benar berminat.
Dan pada gilirannya pada pertunjukan teater, semuanya berperan aktif. Entah yang jadi pemain, atau yang jadi property. Semua memiliki kemampuan masing-masing.
Masih banyak forum-forum yang memiliki metode dan system belajar sendiri-sendiri. Semua siswa yang menentukan.
Sekolahku, Hidupku. Sekolah Alternatif bagi sebagian besar siswa, membuat hidup terasa lebih hidup. Siswa bebas menentukan apa saja yang menjadi keinginan siswa. Tapi jangan salah, siswa juga tidak dipaksa untuk berekspresi. Bagi siswa yang ingin belajar kurikulum biasa, atau belajar hal yang berkaitan dengan akademik juga tidak jadi masalah. Yang penting enjoy dan menikmati apa yang memang menjadi keinginan siswa.
Text Box: Suasana Kelas SMU Tiap kelas memiliki system yang berbeda. Itu dikarenakan siswa-siswa tiap kelas memiliki karakter, kebutuhan dan masalah yang berbeda. Dari kelas satu Ahmad Dahlan atau Hasyim As’ari sampai anak kelas Creative kids memiliki konsep pembelajaran yang berbeda. Tentu saja yang membuat konsep dan system tak lain dan tak bukan adalah siswa. Jika sudah bosan dengan konsep atau dirasa konsep kurang memuaskan, siswa biasa merapatkannya dan mengubah system dan peraturan yang telah dibuat sebelumnya.
Suasana sekolah juga selalu ramai. Musik bisa terdengar di sana-sini. Riuh anak berekspresi bebas. Sekolah memang tempat penghilang stress yang tepat. Berkumpul dengan siswa-siswa yang memiliki karakter yang berbeda-beda tapi tetap pada suatu wadah kebersamaan.
Kelihatannya memang tanpa beban. Tapi begitu merasakan langsung kehidupan Sekolah Alternatif, barulah terasa ada banyak hal memang masih harus dipikirkan. Tidak jarang ditemukan siswa yang jenuh dengan konsep dan system kelasnya. Hingga akhrinya, butuh berpikir keras untuk membuat system yang lebih menarik. Ada juga siswa yang bermasalah dengan forumnya, hingga kemudian membuat siswa terus berpikir mengenai apa yang akan dilakukan selanjutnya untuk mewujudkan apa yang diingikan forumnya.
Di suasana yang lain, akan terlihat beberapa siswa berlalu lalang cari teman yang memiliki ketertarikan sama terhadapnya. Setelah itu pasti banyak pula yang bingung menentukan siapa narasumbernya.
Paradigma negatif tentang sekolah kami acapkali terjadi. Masalah-masalah juga banyak ditemukan. Jika suasana sekolah sedang pada titik KACAU, jangan heran jika mulai dari kelas satu sampai kelas empat sering bubar dan tidak karu-karuan. Kadang, siswa-siswa memiliki semangat yang super high, tapi kalau sudah menemukan titik jenuh, semangat mereka bisa turun drastis. Yang kemudian membuat semua anak berpikir dan terus berpikir untuk membuat suasana sekolah menjadi menyenangkan. Dan sering membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk itu. Semua berpikir bagaimana caranya agar bisa belajar efektif. Jadi di Alnternatif sudah bukan zamannya lagi ada siswa yang pengen bebas gara-gara dikekang. Yang ada adalah siswa pengen belajar gara-gara ada yang merasa terlalu bebas. Karena itu yang ada di benak siswa adalah belajar dan terus belajar. Memunculkan sesuatu yang baru, membuat konsep dan system yang baru dan tidak membosankan. Membuat proyek baru yang menantang. Mencoba dan terus mencoba.
Hingga pada gilirannya ketika semangat siswa melejit, semua berekspresi dengan gaya belajar masing-masing. Tidak monoton dan sangat menyenangkan. Munculnya masalah-masalah membuat siswa merasa harus berpikir mandiri dan menanggapi segala masalah dengan bijak dan dewasa.
Text Box: Kebersamaan Tidak ada nilai di sekolah, tidak ada rangking dan tidak ada siswa paling pintar. Semuanya sama. Karena itu semua menjadi terbuka lebar untuk berbagi dengan yang lain karena tidak pernah merasa ada saingan. Semua dilakukan untuk bersama. Tidak ada yang ingin jadi yang terbaik. Semua merasa menjai saudara seperjuangan. Merasa menjadi asset bangsa yang saling melengkapi.
Semua belajar sebebas-bebasnya tanpa mempedulikan nilai-nilai angka. Siswa menghargai proses. Siswa penasaran, siswa mencoba. Tidak ada batasan bagi siswa yang mau belajar sapa saja.
Dan satu hal yang membuat siswa meresa menikmati sekolah, yaitu semua siswa tidak ada yang merasa puas dengan system dan konsep sekolah. Tidak ada yang merasa sudah pintar. Semua masih merasa butuh belajar banyak hal. Dan semua merasa sedang perproses. Dari ketidak puasan itulah, semua siswa menjadi tertuntut untuk tidak pernah berhenti berpikir.
Karena itu mungkin tiap tahun atau bahkan tiap bulan, konsep Sekolah Alternatif Qaryah Tahayyibah serta pemikiran-permikiran kami juga akan berbeda. Jadi, tidak monoton dan saklek pada suatu konsep dan pemikiran. Semuanya berkembang sejalan dengan apa yang sedang kami hadapi di kehidupan nyata. Yup belajar bisa dimana-mana, dengan siapa saja, belajar sepanjang masa.
Dunia sekolah kami,
Semesta laborat kami,
Kehidupan pustaka kami,
Siapapun itu guru kami

Tidak ada komentar: